Ide menuliskan artikel
ini muncul karena materi kuliah saya saat ini yang membahas tentang Neurobehavior
atau singkatnya perilaku kejiwaan seseorang. Ketika membahas tentang jiwa seseorang ada beberapa nama yang sering
muncul yaitu neurotransmitter dan kerucu-kerucunya seperti dopamine, serotonin dan
adrenalin. Apa sih itu?? yaaya,, akan sedikit saya jelaskan, neurotransmitter adalah
agen kimiawi yang berperan dalam melanjutkan rangsangan. Dopamine, serotonin dan
adrenalin adalah hormone yang membantu dalam melanjutkan rangsangan itu.
Lalu, apa hubungannya
dengan jatuh cinta?? okay okay tenang.. sedikit akan saya jelaskan ternyata saat kita jatuh cinta
ketiga hormon diatas adalah actor utama yang berperan penting saat kita jatuh
cinta, masa sih?? nggak percaya ini buktinya,
dari beberapa sumber mengatakan ketika seseorang jatuh cinta, ternyata ada beberapa senyawa kimia di otak yang turut bermain di dalamnya. Senyawa kimia itu tadi adalah hormone-hormon yang saya jelaskan diatas. Inilah yang membuat saya tergiur untuk menggambarkan patologi cinta alias perjalan cinta. J J
dari beberapa sumber mengatakan ketika seseorang jatuh cinta, ternyata ada beberapa senyawa kimia di otak yang turut bermain di dalamnya. Senyawa kimia itu tadi adalah hormone-hormon yang saya jelaskan diatas. Inilah yang membuat saya tergiur untuk menggambarkan patologi cinta alias perjalan cinta. J J
Selain itu dari referensi tersebut
membicarakan tingkah laku seseorang saat jatuh cinta. Apa yang dilakukan
seseorang ketika jatuh cinta? Ternyata orang jatuh cinta tidak selalu
mengatakan apa yang dirasakannya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 55% orang
menyatakan ketertarikannya dengan bahasa tubuh (body language), 38%
menunjukkan melalui nada suaranya, dan hanya 7 % yang menunjukkan langsung dengan
kata-kata. Hmm…bener nggak ya? (dijawab sendiri ya..)
Ada lagi Seorang antropolog biologi dari Rutgers
University, Helen
Fisher, menyatakan bahwa ada 3 tahap dalam cinta, yang
disebutnya : lust,
attraction, dan attachment, yang
masing-masing tahap itu diatur oleh hormon dan atau senyawa kimia yang berbeda.
Tahap 1 : lust
(hasrat, keinginan, desire)
Tahap ini diawali dengan
ketertarikan atau gairah terhadap lawan jenis, yang dipengaruhi oleh hormon sex
yaitu testosteron dan estrogen, pada pria dan wanita. Ini dimulai dari
masa pubertas, di mana seseorang mulai tertarik dengan lawan jenisnya.
Tahap 2 : attraction
Tahap ini merupakan tahap yang “amazing” ketika seseorang benar-benar sedang
jatuh cinta dan tidak bisa berpikir yang lain. Setidaknya ada 3 neurotransmiter
yang terlibat dalam proses ini, yaitu ketiga hormone yang saya
ceritakan di atas tadi.. apa teman-teman?? Dopamine, serotonin dan adrenalin..
sekarang akan dijelaskan satu per satu ya
a.
Dopamine : Dopamin
adalah suatu senyawa di otak yang berperan dalam sistem “keinginan dan kesenangan” sehingga meningkatkan rasa senang. Dan
efeknya hampir serupa dengan seorang yang menggunakan kokain! Kadar
dopamin yang tinggi di otak diduga yang menyebabkan energi yang meluap-luap,
berkurangnya kebutuhan tidur atau makan, dan perhatian yang terfokus serta
perasaan senang yang indah (exquisite
delight) terhadap
berbagai hal kecil pada hubungan cinta mereka. Dopamin juga merupakan
neurotransmiter yang menyebabkan adiksi (ketagihan)… termasuk adiksi dalam
cinta. Makanya, kita-kita yang lagi jatuh cinta bawaannya senang mulu dan
rela-relain nggak tidur hanya untuk smsan,BBMan atau telpon-telponan..
hahahahaaa…
b.
Adrenalin : Tahap awal
ketika seseeorang jatuh cinta akan mengaktifkan semacam “fight or flight response”, yang akan meningkatkan pelepasan adrenalin dari ujung saraf. Adrenalin akan bertemu dengan
reseptornya di persarafan simpatik, dan menghasilkan berbagai efek seperti
percepatan denyut jantung (takikardi), aktivasi kelenjar keringat, menghambat
salivasi (liur), dll. Ini yang menyebabkan ketika kita ketemu sama ayang kita
akan berdebar-debar, berkeringat, dan mulut jadi terasa kering/kelu. Iya,
nggak?
c.
Serotonin : Ketika jatuh cinta, kadar serotonin otak menurun.
Serotonin merupakan neurotransmiter yang terlibat dalam obsesi. Turunnya
level serotonin inilah yang menyebabkan mengapa ketika kita jatuh cinta,
wajah si dia selalu terbayang-bayang terus di kepala…. menjadi terobsesi terhadap
si dia. Dan keadaan kimia otak terkait dengan kadar serotonin pada orang yang
sedang “falling in love” itu
mirip dengan keadaan orang dengan gangguan Obsessive
Compulsive Disorder!! Ada obsesi atau keinginan terhadap sesuatu dan ada
dorongan (kompulsi) untuk berulang-ulang melakukan sesuatu
untuk mencapai keinginan (obsesi)-nya. Misalnya terobsesi untuk mendengar
suara si dia, maka akan ada dorongan untuk menelponnya berulang-ulang,
menghayal dan senyum-senyum sendiri, hehe…… bener kan?
Subhanallah banget kan… selama ini kita
mengira reaksi yang kita alami saat jatuh cinta itu terjadi begitu saja tapi ternyata
ada jalan ceritanya yang membuat reaksi-reaksi konyol itu muncul. hahaa,,
memang jatuh cinta dipandang dari segi sains pun tetap menarik.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar