Senin, 24 Juni 2013

PATOLOGI CINTA



Ide menuliskan artikel ini muncul karena materi kuliah saya saat ini yang membahas tentang Neurobehavior atau singkatnya perilaku kejiwaan seseorang. Ketika membahas tentang  jiwa seseorang ada beberapa nama yang sering muncul yaitu neurotransmitter dan kerucu-kerucunya seperti dopamine, serotonin dan adrenalin. Apa sih itu?? yaaya,, akan sedikit saya jelaskan, neurotransmitter adalah agen kimiawi yang berperan dalam melanjutkan rangsangan. Dopamine, serotonin dan adrenalin adalah hormone yang membantu dalam melanjutkan rangsangan itu.
Lalu, apa hubungannya dengan jatuh cinta?? okay okay tenang.. sedikit akan  saya jelaskan ternyata saat kita jatuh cinta ketiga hormon diatas adalah actor utama yang berperan penting saat kita jatuh cinta, masa sih?? nggak percaya ini buktinya,
dari beberapa sumber mengatakan
ketika seseorang jatuh cinta, ternyata ada beberapa senyawa kimia di otak yang turut bermain di dalamnya. Senyawa kimia itu tadi adalah hormone-hormon yang saya jelaskan diatas. Inilah yang membuat saya tergiur untuk menggambarkan patologi cinta alias perjalan cinta. J J
Selain itu dari referensi tersebut membicarakan tingkah laku seseorang saat jatuh cinta. Apa yang dilakukan seseorang ketika jatuh cinta? Ternyata orang jatuh cinta tidak selalu mengatakan apa yang dirasakannya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 55% orang menyatakan ketertarikannya dengan bahasa tubuh (body language), 38% menunjukkan melalui nada suaranya, dan hanya 7 % yang menunjukkan langsung dengan kata-kata. Hmm…bener nggak ya? (dijawab sendiri ya..)
 Ada lagi Seorang antropolog biologi dari Rutgers University, Helen Fisher, menyatakan bahwa ada 3 tahap dalam cinta, yang disebutnya : lust, attraction, dan attachment, yang masing-masing tahap itu diatur oleh hormon dan atau senyawa kimia yang berbeda.
Tahap 1 : lust (hasrat, keinginan, desire)
Tahap ini diawali dengan ketertarikan atau gairah terhadap lawan jenis, yang dipengaruhi oleh hormon sex yaitu testosteron dan estrogen, pada pria dan wanita. Ini dimulai dari masa pubertas, di mana seseorang mulai tertarik dengan lawan jenisnya.
Tahap 2 : attraction
Tahap ini merupakan tahap yang “amazing” ketika seseorang benar-benar sedang jatuh cinta dan tidak bisa berpikir yang lain. Setidaknya ada 3 neurotransmiter yang terlibat dalam proses ini, yaitu ketiga hormone yang saya ceritakan di atas tadi.. apa teman-teman?? Dopamine, serotonin dan adrenalin.. sekarang akan dijelaskan satu per satu ya
a.     Dopamine : Dopamin adalah suatu senyawa di otak yang berperan dalam sistem “keinginan dan kesenangan” sehingga meningkatkan rasa senang. Dan efeknya hampir serupa dengan seorang yang menggunakan kokain! Kadar dopamin yang tinggi di otak diduga yang menyebabkan energi yang meluap-luap, berkurangnya kebutuhan tidur atau makan, dan perhatian yang terfokus serta perasaan senang yang indah (exquisite delight) terhadap berbagai hal kecil pada hubungan cinta mereka. Dopamin juga merupakan neurotransmiter yang menyebabkan adiksi (ketagihan)… termasuk adiksi dalam cinta. Makanya, kita-kita yang lagi jatuh cinta bawaannya senang mulu dan rela-relain nggak tidur hanya untuk smsan,BBMan atau telpon-telponan.. hahahahaaa…
b.    Adrenalin : Tahap awal ketika seseeorang jatuh cinta akan mengaktifkan semacam “fight or flight response”, yang akan meningkatkan pelepasan adrenalin dari ujung saraf. Adrenalin akan bertemu dengan reseptornya di persarafan simpatik, dan menghasilkan berbagai efek seperti percepatan denyut jantung (takikardi), aktivasi kelenjar keringat, menghambat salivasi (liur), dll. Ini yang menyebabkan ketika kita ketemu sama ayang kita akan berdebar-debar, berkeringat, dan mulut jadi terasa kering/kelu. Iya, nggak?
c.     Serotonin : Ketika jatuh cinta, kadar serotonin otak menurun. Serotonin merupakan neurotransmiter yang terlibat dalam obsesi. Turunnya level serotonin inilah yang menyebabkan mengapa ketika kita jatuh cinta, wajah si dia selalu terbayang-bayang terus di kepala…. menjadi terobsesi terhadap si dia. Dan keadaan kimia otak terkait dengan kadar serotonin pada orang yang sedang “falling in love” itu mirip dengan keadaan orang dengan gangguan Obsessive Compulsive Disorder!!  Ada obsesi atau keinginan terhadap sesuatu dan ada dorongan (kompulsi)  untuk berulang-ulang melakukan sesuatu  untuk mencapai keinginan (obsesi)-nya. Misalnya terobsesi untuk mendengar suara si dia, maka akan ada dorongan untuk menelponnya berulang-ulang, menghayal dan senyum-senyum sendiri, hehe…… bener kan?
Subhanallah banget kan… selama ini kita mengira reaksi yang kita alami saat jatuh cinta itu terjadi begitu saja tapi ternyata ada jalan ceritanya yang membuat reaksi-reaksi konyol itu muncul. hahaa,, memang jatuh cinta dipandang dari segi sains pun tetap menarik. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar